Blogger Widgets
RSS

Kepergianmu Dalam Pelukan Ibu




 
Hari ini sangatlah melelahakan, aku harus berganti kereta sampai dua kali, dari arah depok menuju stasiun kota, dari stasiun kota nyambung lagi ke kereta patas arah angke sampai stasiun merak. Karena jadwal kereta yang tak jelas, waktu ku terbuang di stasiun . seharusnya kereta patas berangkat pukul 10.00 wib, kulihat jam di tangan kiriku, pukul 10.15, telat. Ku menarik napas dalam – dalam sambil mengeluskan tanganku ke dada, sabar. Gumamku dalam hati.
Sesaat aku duduk di gerbong yang tidak terlalu padat, disisiku ada seorang ibu yang menggendong anaknya, sepertinya ia sedang terlelap. Karena jenuh menunggu kereta yang tak berangkat – berangkat, akhirnya aku mengajak ibu itu mengobrol.
  ibu, ini anak ibu ? “ tanya ku sambil menatap anak yang ada dipangkuannya.
“ iya neng.. “ jawab ibu tanpa ekspresi, sedangkan aku semakin penasaran dengan ibu itu.
“ cantik sekali bu... “ ucapku sambil tersenyum, terlihat sekali anak itu di dandani dengan bedak dan baju warna pink yang dikenakan, ditambah topi yang menempel dikepalanya, dan sedikit celak dimatanya. “ cantik sekali... “  gumamku dalam hati.
“ Trimakasih neng... “ jawab ibu itu singkat  masih  tanpa ekspresi sedikitpun. Aku semakin heran, lalu ku lanjutkan pertanyaanku.
“ mau kemana bu... ? “
“ ke arah Rangkas Bitung.” Jawab ibu itu sambil menyebutkan suatu daerah di rangkasbitung.
“ wah jauh ya bu... ? “
“ iya neng... “ jawab ibu masih dalam ekspresi yang tak ku mengerti.
Jam ku menunjukkan pukul 11.05, sudah lama sekali aku menunggu di stasiun namun kereta belum juga jalan. Menurut berita ada banjir di tanah abang , otomatis perjalanan kereta sementara terganggu dan banyak yang tertunda.
Anak dalam pangkuan si ibu tadi masih tetap tenang dalam pelukan ibunya, padahal penumpang semakin sesak terasa tak nyaman dan hawa mulai terasa panas, namun anak ibu itu tetap terlelap dalam tidurnya. Aku semakin penasaran kok bisa anak sekecil itu tetap tenang dalam keadaan kereta yang sangat panas tanpa ada penyejuk sekedar kipas angin saja.
“ bu, ko anaknya anteng ya... padahal hawanya panas gini !? “ aku kembali membuka pertanyaan. Namun tiba – tiba ibu itu menangis. Aku jadi serba salah.
“ bu maaf, ada yang salah dengan kata – kata saya... ? “  tanyaku semakin penasaran.
“ tidak neng, neng tidak salah, ibu hanya sedih. “ ucapnya  sambil menangis tersedu . sepertinya ibu itu mulai membuka dirinya padaku.
“ kenapa ibu bersedih... ? “ tanyaku heran. Ibu itu terdiam sejenak. Dan mulai berbicara lagi padaku
“ ibu akan ceritakan semua pada neng, asalkan neng berjanji tidak akan menceritakan semuanya pada orang – orang baik penumpang yang ada dikereta ini juga pada kondektur kereta. !”
“ baik bu, insyaallah. ! “ aku sangat penasaran dengan cerita ibu itu, sampai berpesan jangan sampai menceritakan pada penumpang yang lain dan kondektur. “  Apa hubungannya mereka dengan si ibu ini ? “ pertanyaanku mencuak di otakku.
“ trimakasih neng sebelum dan sesudahnya. “ ucap ibu itu dan aku hanya tersenyum serta siap mendengarkan ceritanya.
“sudah satu minggu ini anak ibu sakit panas, tapi ibu hanyalah seorang pemulung yang  mengais rizki lewat sampah – sampah yang berserakan, penghasilan ibu pun tidak menentu, kalaupun dapat uang dari hasil menjual sampah, itupun hanya cukup untuk makan sehari. Ibu tidak memiliki tempat tinggal tetap, terkadang ibu tidur di emperan atau di bawah kolong jembatan layang. Ibu ingin sekali membwa anak ibu ke dokter, tapi ibu tak memiliki uang, kalaupun ada, sangat tidak mencukupi. Ibu bukanlah warga DKI Jakarta dan tak memiliki KTP DKI jadi ibu tidak mendapatkan jaminan apa – apa. Anak ibu hanya di obati ala kadarnya, tapi ternyata anak ibu tak kunjung sembuh. Sampai subuh tadi akhirnya anak ibu meninggal dalam dekapan ibu. Setelah meninggalpun ibu bingung, jika harus dikubur di jakarta , biaya untuk menguburnya pun ibu tak punya cukup uang, dan bila harus ibu bawa ke kampung yang cukup jauh dari kota jakarta dengan menggunakan mobil jenazah, itu pun tak cukup ada uang. Dibutuhkan uang sekitar satu juta untuk mobil jenazah, sedang uang sebesar itu ibu tak punya. “ jelas ibu panjang lebar sambil menangis tersedu. Lantas ia meneruskan ceritanya.
“ akhirnya, lewat batuan para gelandangan dan pemulung yang lain, terkumpullah uang hasil jerih payah mereka yang diberikan kepada ibu, uang sebesar 250.000,- dikira cukup untuk membawa ibu pulang ke kampung halaman dan menguburkan anak ibu disana yang tidak memakan biaya besar. Jelas ibu mengakhiri ceritanya. Kepalanya tertunduk, isakkannya samar terdengar, karena tak ingin di dengar oleh penumpang kereta yang lain. Aku benar – benar tercengang dengan penuturan ibu itu.
“ ibu, boleh aku memegang tangan adik kecil ini. ? “ tanyaku memohon ijin.
“ silahkkan neng. “ lantas aku memegang tangan adik kecil nan cantik ini.
“ subhanallah.... benar ya robb...  tangan mungil ini begitu dingin, tak ada denyut nadi disana, “ gumamku dalam hati. Lantas ku buka sedikit  topi anak kecil itu dan ku cium dengan lembut keningnya, amat dingin tak ada jiwa disana. Lalu ku bisikan ke telinganya.
 “ kesejahteraan untukmu dik... kamu sudah lebih dulu menghadapNya, dan kakak pasti akan menyusulmu.... “  ucapku lirih, menitikan air mata yang tak bisa ku tahan.
“ ya Rob.... si kecil nan cantik itu tertidur damai dalam pelukan ibu yang sangat menyayanginya, sungguh aku tak dapat menahan haru, ingin aku memeluk adik kecil ini serta ibunya. Begitu sulitnya hidup ini sampai akhir hayatnya pun si kecil nan cantik itu tidak merasakan keramahan negeri ini”. Aku hanya terdiam dan menatap haru, sungguh ingin rasanya aku berteriak pada negeri ini. “ wahai para penguasa nan sombong, lihat ! ada rakyatmu yang begitu menderita. Terbelenggu dalam kemiskinan dan keangkuhanmu. Tak bisakah kau membuka mata hatimu, tapi kepongahan terus menjalar dihati dan jiwamu. “  teriakkan ku tertahan dikerongkongan, tak mungkin aku berteriak di gerbong kereta yang sudah penuh ini, hanya sesak  di dada yang kurasa , sakit. Sungguh  sakit.
Ibu itu tak pernah menyalahkan siapa pun dengan keadaannya, dia hanya mengatakan “ ini sudah takdir tuhan “
Kereta sesaat melaju, kini aku terdiam tanpa kata. Tak ada lagi pertanyaan yang membuatku penasaran . kini, sudah kudapatkan dari keterdiaman si ibu dan indahnya tidur panjang si kecil nan cantik itu.
“ selamat tidur nak, Allah bersama mu selalu dalam damai di surga sana “ lirihku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar